JAM
Dalam kehidupan manusia JAM itu sangat penting, dan secara internasional harus disepakati bersama. Maka ditetapkanlah di Greenwich, Inggris, sebagai jam 0, Negara-negara atau kota-kota lain, mengikuti menjadi + atau – berapa sesuai letaknya dibumi ini. Indonesia menjadi +0,700 GMT (maksudnya WIB). Kita disini juga harus saling mencocokan jam kita masing-masing, kalau tidak janji dengan orang jam 09.00 nanti datangnya jam 09.30. Pemerintah dahulu memberi patokan dengan memutar telepon 102 maka akan dijawab “jika gong berbunji waktu akan menunjukan pukul ……….wib” Dengan demikian kita cocokan semua jam dirumah, jam dinding, jam kamar dan jam tangan dengan waktu yang kita dapat itu. Sayangnya sudah beberapa tahun lalu, jika kita putar nomor tersebut tidak dijawab atau sedang sibuk. Bingung mengenai hal ini, tanya sana dan tanya sini, ternyata saya yang ketinggalan zaman. Sekarang ini hampir tiap orang mempunyai computer atau setidaknya handphone, kalau kita set gadget itu pada posisi AUTO, maka dengan sendirinya lewat internet menunjukkan waktu setempat yang mengacu GMT. Jadi rupanya servis telkom itu, bersama saudaranya TILGRAM sudah bangkrut.
Pada zaman dahulu bagaimana orang menentukan waktu, mungkin yang paling masuk akal pasti jam 12 siang, karena pada waktu itu matahari pas diatas kepala kita, atau kalau yang tinggal diutara atau selatan pada titik tertinggi (kulminasi) (kalau dilihat bayangan dari sebuah tongkat yang tegak lurus.) Tapi yang patut dipuji ialah penemuan Jam dari orang Swiss. Dengan mengatur gigi gigi yang dijalankan oleh sebuah per, membuat jarum detik berputar. Setiap jarum detik berputar satu putaran, jarum menit bergerak satu strip, dan selanjutnya setiap jarum menit bergerak satu putaran jarum jam bergerak satu stip, dst-nya. Yang mengkagumkan bagaimana suatu per yang jika diputar pada awalnya akan cepat jalannya dan makin lama makin kendor dapat diatur supaya konstan. Dibuat gigi lagi yang gerakannya hanya kekiri dan kanan, dan digerakkan oleh per lain lain yang halus, disebut per rambut. Belum selesai sampai disini karena gigi-giginya kecil dan as-nya juga kecil maka gampang haus. Maka pada zaman dahulu ada jam yang mahal memakai tumpuan as-nya dengan batu mulia. Yang mahal sampai memakai 21 batu, yang murahan dengan 10 batu atau 2 batu bahkan tanpa batu.
Disamping beredarnya jam-jam yang mewah akurat, ada juga yang membuat Jam otomatis yang didalamnya ada bandul jika dipakai atau digerak-gerakkan maka bandulnya akan membantu memutarkan per-nya. Tetapi jika didiamkan atau tidak dipakai jamnya juga mati.
Sejalan dengan kemajuan elektronik, ada bebrapa macam Kristal, mempunyai sifat yang khas selalu bergetar dengan konstan tanpa henti atau jedah pada frequency tertentu. Gejala alami yang tak terlihat kasat mata ini, dimanfaatkan untuk dibuat suatu jam. Dari getaran sekian ribu getar per detik secara elektronik tidak terlalu sulit untuk diperlambat menjadi 1 getar per detik misalnya, lalu menghidupkan angka digital layaknya sebuah kalkulator, tapi setiap 60 detik naik ke menit, dan 60 menit jadi jam. Jam ini hanya butuh satu batrei kecil tak butuh gigi-gigi dan harganya jadi murah sekali. Sayang jam digital in kurang popular dan orang masih merindukan jam yang pakai jarum.
Para produsen Jam, memanfaatkan situasi ini, dengan menambah gigi-gigi untuk menggerakkan jarum jam, dan memakai Kristal sebagai sumber/pengatur gerak, umumnya memakai Kristal quartz. JAM yang seperti inilah yang bertahan sampai sekarang. Tombol pemutar per masih tetap ada tapi hanya untuk mencocokkan waktu saja.
Masalah JAM selain untuk melihat waktu juga merupakan fashion dan gengsi, jam-jam yang sudah punya nama meski dengan harga mahal tetap disukai dan beredar.
Tatang J. Iskandar


























